English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts

Thursday, February 21, 2013

Bahaya Facebook untuk Remaja


Begitu diperkenalkan ke publik, situs jejaring sosial Facebook langsung menjerat hati jutaan penggemarnya. Media sosial ini dicintai karena memungkinkan seseorang berhubungan kembali dengan teman lama dari sekolah atau perguruan tinggi tanpa harus bertemu muka.

Namun penggunaan Facebook yang intens memiliki konsekuensi, terutama bagi remaja. Larry Rosen, psikolog di Cal State Dominguez Hills, yang telah mempelajari dampak teknologi terhadap manusia selama lebih dari 25 tahun mengungkapkan situs jejaring sosial seperti ini berdampak buruk untuk anak dan remaja.

Ia mengungkapkan temuannya dalam pertemuan tahunan American Psychological Association. Menurutnya, remaja yang sering menggunakan teknologi seperti video game atau internet, cenderung lebih mengeluhkan nyeri perut, gangguan tidur, kecemasan dan depresi. Mereka juga dilaporkan sering bolos sekolah.

Selain itu remaja dan orang dewasa muda yang sering login ke Facebook lebih narsis. "Situs jejaring sosial membuat seseorang lebih narsis karena bisa mengiklankan dirinya sendiri 24 jam 7 hari seminggu menurut keinginan pribadi," kata Rosen.

Di antara pengguna dari segala usia, Rosen menilai makin banyak orang menggunakan Facebook, makin besar kemungkinan mereka memiliki gangguan kepribadian antisosial, paranoia, kecemasan dan penggunaan alkohol.

Ketika Rosen dan timmnya mengamati siswa SMP, SMA dan mahasiswa yang sedang belajar untuk ujian selama 15 menit, mereka menemukan bahwa kebanyakan siswa hanya bisa fokus selama dua sampai tiga menit sebelum mengalihkan perhatian mereka untuk hal-hal yang kurang ilmiah, seperti teks pesan atau fitur media sosial di ponsel. Tidak mengherankan siswa yang sebentar-sebentar memeriksa akun Facebook sambil belajar mendapatkan hasil yang buruk saat ujian.

Orang tua juga harus menangani bentuk lain dari jejaring sosial, seperti mengirim dan menerima pesan teks (SMS). Remaja rata-rata mengirimkan lebih dari 2.000 teks per bulan. Ini adalah jumlah besar yang bukan cuma memicu masalah tidur dan konsentrasi, tetapi juga stres fisik.

Rosen menunjukkan contoh seorang remaja di Chicago yang menderita sindrom carpal tunnel dan memerlukan obat pereda nyeri dan perban pada pergelangan tangan setelah mengirim lebih dari 100 teks perhari.

"Anak-anak dibesarkan pada konsep koneksi. Bagi mereka bukan kualitas yang penting, tetapi hubungan itu sendiri. Telepon atau bertemu tatap muka hanya  memungkinkan jumlah minimum koneksi, sementara alat-alat lain memungkinkan mereka untuk terhubung ke dunia," kata Rosen.

Meski Facebook juga memiliki banyak sisi positif, tetapi Rosen menyarankan agar orangtua perlu memberi pemahaman pada anak mereka mengenai cara berperilaku secara online. Hal ini bisa mendorong anak untuk menyadari apa yang boleh dan dilarang ketika menggunakan internet.

Ia menambahkan, media sosial jika digunakan secara tepat bisa membantu anak berperilaku empati dan berinteraksi dengan teman-temannya tanpa harus mengkhawatirkan reaksi orang secara langsung. "Untuk anak-anak pemalu ini akan menjadi nilai tambah dan membantu mereka keluar dari cangkangnya," katanya.

Tetapi ada satu hal penting yang kerap dilupakan orangtua, yakni Facebook sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa, bukan anak-anak. "Berbeda dengan bullying di sekolah, bullying yang terjadi di internet bisa terjadi setiap saat," katanya.

Sumber: www.latimes.com

Musik Metal Pengaruhi Mental Remaja


Musik beraliran heavy metal merupakan jenis musik yang digandrungi remaja. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penggemar musik ini lebih berisiko menderita depresi, bahkan bunuh diri.

Katrina McFerran, dari Melbourne University, Australia, yang melakukan penelitian selama 5 tahun mengenai pengaruh musik pada kondisi mental remaja, menemukan bahwa musik heavy metal menyebabkan gangguan mental pada remaja usia 13-18 tahun.

"Kebanyakan remaja mendengarkan musik untuk tujuan positif, seperti memperbaiki mood atau menambah energi ketika berolahraga. Tetapi, remaja yang berisiko depresi cenderung mendengarkan musik, terutama musik heavy metal, untuk tujuan negatif," kata McFerran.

Ia menambahkan, pengaruh musik bergenre rap, rock, atau pop terhadap kondisi mental remaja ternyata berbeda dengan musik heavy metal.

"Remaja mendengarkan musik heavy metal karena itu menjadi pelarian dari realitas. Mereka juga menemukan musik-musik itu merefleksikan penderitaan mereka sehingga mereka tidak merasa kesepian lagi," katanya.

Kendati begitu, ada juga remaja yang mengatakan mood mereka justru membaik setelah mendengarkan musik metal. "Orangtua dan sekolah bisa melakukan intervensi untuk mencegah gangguan mental yang mungkin dialami remaja," katanya.

Selain itu, ia juga menyarankan agar orangtua membuka komunikasi dengan anak mereka. "Tanyakan perasaan mereka setelah mendengarkan musik heavy metal. Jika anak mengatakan mereka bertambah down, sebaiknya larang anak mendengarkan musik ini," katanya.

Sumber: www.foxnews.com

Monday, May 28, 2012

Galau Bisa Menyebabkan Gangguan Kejiwaan


Miris, galau sudah menjadi tren bagi kalangan remaja di Indonesia. Padahal galau yang memiliki intensitas yang terlalu sering, bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan pada remaja. Gangguan tersebut dinamakan dengan bipolar, yaitu sebuah bentuk gangguan jiwa yang bersifat episodik atau berulang dalam jangka waktu tertentu. Gangguan ini biasa dimulai dari gejala perubahan mood (suana hati) dan bisa terjadi seumur hidup.

“Remaja yang dikenal sedang mengalami masa-masa galau, memang sangat mudah terserang depresi,” ungkap Dr A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K) Kepala Departemen Psikiatri RSCM.

Seseorang harus jeli melihat gejala bipolar sebagai bentuk penyesuaian diri atau sudah merupakan episode depresi.

“Kita harus lihat apakah itu hanya berupa penyesuaian diri pada keadaan atau kah sudah merupakan episode depresi,” kata Agung saat dalam seminar ‘Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?’ di Hotel JW Marriott Jakarta, Rabu (25/4).

Episode depresi biasa terjadi pada penderita bipolar, minimal setiap hari selama dua minggu.
“Hal ini dapat terlihat dari perilakunya, yang tidak mau bertemu dengan orang-orang, pesimistik, memikirkan sesuatu yang nihilistik, maka kemungkinan untuk dapat terpicu bipolar 30 persen,” papar Agung.

Perlu dibedakan antara depresi reaktif dan depresi pada gangguan bipolar. Tentu cara membedakannya dengan melakukan serangkaian tes tertentu. Hal ini diucapkan oleh dr.Handoko Daeng, SpKJ(K) Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), yang saat itu hadir dalam acara seminar.

“Jenis depresi yang berbeda, karena setiap orang pasti dapat merasakan sedih dan pesimis. Namun bila itu terjadi terus menerus atau disebut sebagai episode depresi, maka perlu dikhawatirkan,” jelas Daeng.

Beberapa masalah lain yang perlu diperhatikan adalah gangguan bipolar bisa mengakibatkan bunuh diri bagi penderitanya. Angka bunuh diri yang diakibatkan gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibanding angka bunuh diri dalam populasi umum tanpa gangguan bipolar, yaitu 21,7 persen dibanding satu persen.

Ia mengatakan, bila dibandingkan dengan penderita skizofrenia, bipolar juga 2-3 kali berpotensi melakukan tindakan bunuh diri. Ada sekitar 10 hingga 20 persen penderita bipolar mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dan 30 persen lainnya pernah mencoba bunuh diri.

Sumber: psikologizone.com

Friday, March 30, 2012

Agar Hubungan Ayah dan Anak Perempuan Harmonis, Cek Tips Berikut


Semua orangtua tentu sayang dengan anak-anaknya, baik yang laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, terkadang dengan anak perempuan, ayah biasanya agak kaku sehingga tidak dekat.
Untuk itu, Timesofindia berbagi tips agar hubungan ayah dan anak perempuannya berjalan baik:

1. Perlakukan putri Anda seperti teman, berbagi pikiran dan minta pendapat dari putri Anda.


2. Perlakukan putri Anda seperti orang dewasa karena anak sekarang telah menjadi lebih bijaksana dan tahu apa yang mereka lakukan.

3. Jika putri Anda sedang menghadapi masalah dengan istri Anda, jadilah mediator yang bijaksana antara dua wanita ini.

4. Jika Anda tidak bisa berkomunikasi dengan baik, lakukan dengan mulai membantu mengerjakan pekerjaan sekolahnya atau sekali-sekali memberinya hadiah

5. Ketika putri Anda beranjak remaja, biasanya ayah cenderung over protektif. Sebaiknya jangan terlalu curiga dengan kondisi anak Anda, berikan kepercayaan padanya.

6. Putri Anda tidak bayi lagi. Biarkan dia belajar dari kesalahannya dan mandiri. Hindari untuk berkotbah terhadap anak Anda.

7. Dia adalah putri Anda, jadi cintailah dia tanpa syarat bahkan jika sekali-sekali dia membuat kesalahan. Cinta Anda akan membuat dia sadar untuk tepat membuat pilihan hidup.

8. Menerima lingkungan sosial anak Anda kadang-kadang agak sulit. Karena jenis dan model teman putri Anda mungkin membuat Anda terkejut, tapi cobalah menerima mereka.

9. Anda harus banyak bersabar. Tahan diri Anda untuk tidak marah dan mengeluarkan suara keras. Kondisi berbeda ini akan membuat putri Anda juga lebih tenang.

10. Luangkan waktu, karena waktu adalah unsur ikatan terbesar. Cobalah melakukan apa yang putri Anda sukai dan lihat perbedaannya, karena mereka akan suka cara Anda itu.

Ok, para ayah cobalah tips ini semoga bermanfaat!

Sumber: Ghiboo.com

Tuesday, February 7, 2012

Sejak Dini, Kenalkan Bahaya Narkoba!


Dokter yang juga artis, Lula Kamal, mengatakan, pengenalan akan bahaya narkoba harus dilakukan sejak dini sebagai upaya mengantisipasi penyalahgunaan obat-obatan tersebut.
    
"Sampai kini tren penyalahgunaan narkoba terus meningkat sehingga sosialisasi bahaya narkoba harus terus dilakukan," katanya ketika menjadi pembicara pada sosialisasi anti narkoba bagi karyawan BUMN/BUMD di Palembang.

Menurut dia, sosialisasi tentang bahaya narkoba dan pengenalan produk obat-obatan terlarang tersebut menjadi langkah penting untuk mengantisipasi berkembangnya penggunaan narkoba. Karena sampai kini meningkatnya penggunaan narkoba tersebut banyak disebabkan akibat ketidakmengertian pengguna.

Ia mengatakan, penyalahgunaan narkoba harus diantisipasi sedini mungkin, sehingga ’kita’ mampu menyelamatkan generasi penerus dari bahaya obat-obatan yang membahayakan tersebut.

"Apalagi negara kita terkenal jago dalam memproduksi ganja yang merupakan salah satu jenis candu yang membahayakan," katanya.

Dia menjelaskan, perkembangan penyalahgunaan narkoba di negeri ini sangat cepat, terbukti dalam beberapa waktu tidak hanya peredaran yang berhasil diungkap, tetapi pabrik yang memproduksi ekstasi skala besar pun terungkap.

"Baru-baru ini heroin murni dari Afrika juga masuk ke negara kita, dan ini membuktikan peredaran barang haram tersebut semakin bebas menyerang bangsa ini," ujarnya.

Sementara itu, sampai kini BNN mencatat korban tewas akibat penyalahgunaan obat mencapai 40 orang per hari atau 15 ribu per tahun.

Pengguna narkoba tidak hanya dari kelas menengah, tetapi telah menyerang semua lapisan masyarakat di negeri ini.


Sumber: health.kompas.com

Wednesday, February 1, 2012

Many of Adolescent Marriage in Early Childhood

A total of 34.5 percent from about 120,000 marriages in Indonesia conducted by early adolescence. The majority of them are in the age range 12-18 years.

Chairman of the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) Hadi Supeno said, about 40 percent of early marriages took place in East Java. In addition to its religious orders, marriage is also often motivated by issues surrounding tradition, of marrying young.
"For fear of being labeled as an old maid, then parents hurried to match and marry off his daughter was a teenager," he said.

Hadi said, another factor that often arises is the economic problem. This is a lot behind early marriages in five districts in West Java, including in Cirebon, Falkirk, and Indramayu. Typically, girls from a wealthy family married with families in an effort to pay family debts or boost the economy.

Hadi said, according to the Act (Act) No. 1 of 1974 on Marriage, marriage age limit is 16 years old. However, in Law Number 23 Year 2002 on Child Protection, those within the age range 0-18 years are still included in the category of children.

"That way, marriage is done by those aged not more than 18 years, still referred to as early marriage or marriage minors," he said.
Early marriage will ultimately lead to bad things. In addition to triggering terjadinyababy boom, and the high maternal and infant mortality. Their emotions are not mature enough, often also lead to family disharmony and eventually result in divorce.

"That way, the kids or the generation born from them are less qualified and not getting enough attention from her parents," he said.
Responsible for the Working Group (Working Group) Complaints KPAI Satriyandayaningrum said the divorce case will lead to new conflicts antarsuami wife is the problem of child custody.

"In fact, a prolonged conflict can occur because of court decisions is not necessarily adhered to by both parties," he said.

In some example cases, child custody is decided authorized in the mother, were ignored because the child continues to care of his father, or vice versa. This in turn makes the child psychiatric conditions increasingly nervous and depressed.

Monday, January 30, 2012

Remaja Puber Perlu Arahan Positif

Kondisi psikologis remaja yang sedang puber cenderung mudah bosan dan emosinya labil. Karena itu butuh bimbingan yang tepat agar tidak berakibat fatal pada masa depan mereka. Demikian disampaikan Dr Yuliarto Dwi M saat memberikan materi mengenai kesehatan reproduksi remaja pada semiloka Semiloka Program Keluarga Berencana Nasional di Pendopo Kelurahan Banjarmendalan Lamongan, Kamis (28/8).

Pada masa puber, menurut Yuli, remaja sering bereaksi secara berlebihan dan selalu ingin mencoba sesuatu tanpa berfikir risikonya dengan matang. Mereka cenderung memiliki perilaku yang jika tidak dibimbing dengan baik akan berakibat fatal bagi masa depan mereka.

Yuli menyebutkan fakta penelitian yang dilakukan terhadap pelajar SMP di Bandung tahun 1991. Dari penelitian itu 10,53 persen diantara remaja masa puber pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen pernah ciuman dalam (lidah) dan bahkan 3,86 persen pernah melakukan hubungan seks.

Untuk menghindarkan generasi muda dari masa depan yang suram, selain dengan taat beribadah juga perlu mengarahkan remaja mengisi waktu sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan melalui olahraga, kesenian maupun gerakan pramuka, kata Yuli.

Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Lamongan Fadeli mengatakan menjawab semakin tingginya tuntutan terhadap revitalisasi gerakan pramuka untuk menjawab tantangan generasi muda sekarang, satuan-satuan karya (Saka) yang ada diinstruksikan lebih diaktifkan kembali. Dalam pramuka sebenarnya ada wadah yang sanggup memberi jawaban terhadap tuntutan generasi muda sekarang.  

Saka Kencana dan Saka Bhakti Husada perlu diaktifkan kembali. Saka Kencana berada di bawah Dinas Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Sosial. Saka Bhakti Husada di bawah Dinas Kesehatan. Di Lamongan juga baru saja dibentuk Saka Wira Kartika dibawah Koman do Distrik Militer 0812 Lamongan, tuturnya

Sumber: health.kompas.com

Siapkan Gadis Kecil Anda untuk Haid Pertamanya

Gadis kecil Anda sudah mulai beranjak dewasa. Teman-teman sebayanya pun mulai mendapatkan haid pertamanya. Bagaimana Anda bisa tahu teman-temannya sudah mendapatkan haid? Ya... Suatu hari anak gadis Anda bertanya pada Anda apa yang harus dia lakukan jika haid pertamanya datang. Dan mungkin saja pengalaman pertamanya itu akan diperolehnya saat berada di sekolah. 

Tentu saja, sudah menjadi kewajiban Anda untuk membimbingnya agar ia mengerti apa yang harus ia lakukan ketika itu terjadi. Mari kerahkan kemampuan Anda untuk menjelaskannya!

Kurangi kekhawatiran gadis kecil Anda mengenai haid pertamanya dengan menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk itu. Berikan padanya sebuah dompet kecil yang berisi pembalut, tisu serta handuk kecil, lengkapi dengan sebotol kecil sabun cair dan pakaian dalam cadangan.

Pastikan ia membawa dompet kecil tersebut di dalam tas sekolahnya, atau letakkan di loker sekolahnya jika masing-masing siswa memiliki satu loker. Jelaskan pada mereka bagaimana cara menggunakan pembalut dan apa kegunaannya. Pastikan mereka mencoba memasangnya sendiri secara benar sehingga pakaian mereka tidak menghasilkan "bendera merah" nantinya.

Katakan pada mereka bahwa hal ini akan dialami setiap wanita dan wajar terjadi. Dengan memberi penjelasan, mereka tidak akan mengalami syok saat terjadi "perdarahan" di bawah sana. Jangan lupa untuk menjelaskan pada mereka bahwa kram perut bisa saja mereka alami. Untuk itu, pastikan mereka mengatakan pada Anda apa yang mereka rasakan saat mendapatkan haid sehingga mereka mempunyai teman untuk berbagi "rahasia kecil" wanita ini.

Ingatkan mereka tentang kemungkinan haid gadis kecil Anda datang saat dia berada di sekolah dan dia lupa membawa perlengkapan "perang"nya atau bahkan noda haid tembus ke seragamnya. Beritahukan padanya untuk tidak panik dan malu untuk membicarakan hal ini kepada guru mereka. Yakinkan mereka bahwa guru di sekolah akan membantu dia untuk mengatasi masalah ini, sehingga jangan segan untuk meminta bantuannya atau bila gadis kecil Anda terlalu malu untuk itu. Pastikan Anda siap untuk dipanggil olehnya, beritahukan padanya bahwa Anda siap bersamanya jika memang perlu.

Kalau sampai ia harus berganti seragam dan ia takut ditanya oleh teman-temannya, buatlah ia percaya diri dengan meyakinkannya bahwa jika ia terlalu malu untuk mengatakan pada temannya alasan ia berganti seragam. Tidak usah segan untuk menyatakan bahwa pakaiannya tadi terkena sesuatu dan kotor sekarang. Ingatkan padanya bahwa haid merupakan masalah pribadi dan tidak apa-apa jika ia tidak merasa nyaman untuk membicarakannya dengan teman - temannya mengenai insiden kecil itu.

Semoga hal ini bisa membantu Anda menyiapkan gadis kecil Anda menjadi seorang remaja. Tak terasa bukan bahwa ia sudah menjelang remaja? Memang hari-hari bisa berlalu sangat cepat.


Sumber: health.kompas.com

Wednesday, January 11, 2012

Pengertian dan Ciri-ciri Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Masa-masa Pubertas

Masalah remaja adalah masa datangnya pubertas (sebelas sampai empat belas tahun) sampai usia sekitar delapan belas-masa tranisisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Ada sejumlah alasan untuk ini:
  1. Remaja mulai menyampaikan kebebasanya dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini bisa menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bisa menjauhkan ia dari keluarganya.
  2. Ia lebih mudah dipengaruhi teman-temannya dari pada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah mode pakaian, potongan rambut atau musik, yang semuanya harus mutakhir.
  3. Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.
  4. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.
Ada sejumlah kesulitan yang sering dialami kaum remaja yang betapapun menjemukan bagi mereka dan orang tua mereka, merupakan bagian yang normal dari perkembangan ini.
Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain :
  1. Variasi kondisi kejiwaan, suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain ia terlihat sebaliknya-periang berseri-seri dan yakin. Perilaku yang sukar ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah abnormal. Itu hanya perlu diprihatinkan bila ia terjerumus dalam kesulitan, kesulitan di sekolah atau kesulitan dengan teman-temannya.
  2. Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, hal ini normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya birahi adalah normal dan sehat. Ingat, bahwa perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja. Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbulkan bentuk-bentuk perilaku seksual.
  3. Membolos
  4. Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam dan agresif. Sebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk teman, dan kedisiplinan yang salah dari orang tua terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak-dan sering tidak ada sama sekali
  5. Penyalahgunaan obat bius
  6. Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang adalah skizofrenia.
Yang harus di lakukan bila merasa cemas terhadap anak remaja :
Langkah pertama adalah bertanya kepada diri sendiri apakah perilaku yang mencemaskan itu adalah perilaku yang normal pada anak remaja. Misalnya adalah pemurung, suka melawan, lebih senang sendiri atau bersama teman-temannya dari pada bersama anda. Anak remaja anda ingin menunjukan bahwa ia berbeda dengan anda. Hal ini dilakukan dengan berpakaian menurut mode mutakhir, begitu pula dengan kesenanganya pada potongan rambut dan musik. Semua itu sangat normal, asal perilaku tersebut tidak membahayakan, anda tidak perlu prihatin. Tindakan selanjutnya adalah menetapkan batas dan mempertahankannya. Menetapkan batas itu sangatlah penting, tetapi batas-batas itu haruslah cukup lebar untuk memungkinkan eksplorasi yang sehat.
  • Bila perilaku anak anda membahayakan atau melampaui batas-batas yang anda harapkan, langkah berikutnya adalah memahami apa yang tidak beres.
  • Depresi dan perilaku yang membahayakan diri selalu merupakan respon terhadap stres yang tidak dapat diatasinya.
  • Anak remaja yang berperilaku atau suka membolos seringkali akibat meniru dan mengikuti teman-temannya, dan merupakan respon dari sikap orang tua yang terlalu ketat atau terlalu longgar.
  • Minum-minuman alkohol dan menghisap ganja biasanya merupakan respon terhadap stres dan akibat meniru teman. Masalah seksual paling sering mencerminkan adanya kesulitan diri didalam proses pendewasaan.
Secara umum masalah yang terjadi pada remaja dapat diatasi dengan baik jika orang tuanya termasuk orang tua yang "cukup baik". Donald winnicott, seorang psikoanalisis dari Inggris memperkenalkan istilah "good enough mothering" ia menggunakan istilah ini untuk mengacu pada kemampuan seorang ibu untuk mengenali dan memberi respon terhadap kebutuhan anaknya, tanpa harus menjadi ibu yang sempurna. Sekarang laki-laki pun telah "diikutsertakan", sehingga cukup beralasan untuk membicarakan tentang "menjadi orang tua yang cukup baik"
Tugas-tugas yang dilakukan oleh orang tua yang cukup baik, secara garis besar adalah:
  1. memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok; sandang, pangan dan kesehatan
  2. memberikan ikatan dan hubungan emosional, hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak.
  3. Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
  4. Membimbing dan mengendalikan perilaku.
  5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan untuk membantu anak anda matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar orang tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
  6. Mengajarkan cara berkomunikasi, orang tua yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran kedalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah.
  7. Membantu anak anda menjadi bagian dari keluarga.
  8. Memberi teladan.

Aspek-Aspek Perkembangan Pada Masa Remaja

Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel. Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut : “Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan social
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial
Pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Wednesday, January 4, 2012

Frustation At Adolescent

Frustation is a situation where someone is upset, too many problems, pressure or otherwise, so it can not resolve it, can also be interpreted as a situation experienced by a person, when his desire could not be achieved or blocked to be realized or it could be ideal or his desire blocked so can not be realized.

Usually the cause of the frustation related to various physical changes and mental which can lead to conflict. As for the causes of frustation among others:
1.      identity crisis
Adolescent experiencing identity confusion among children or adult. Teenager are often confused to defend the behavior of children or adult. Caused frustration in problems solving, teenager with little experience to solve problems independently, different at the time of the child who is still always get help from parent, while teens are required to be independent.
2.      Social change and the role of parent
Very real social change at all in the development of youth, from the influence of parent (in childhood) to peer influence. Peer pressure and conformity color values ​​that exist in adolescent. Teenager will do anything to be accepted in a peer environment even though it conflicts with his private self. Peer acceptance is very important for teenager. Conflict occur between individual self-concept with the concept of neighborhood teenagers who require teen to behave according to the group. Peer rejection of self teen teen causing frustation.
Conflicts with parents often occur in adolescence. In general, parental influence is not noticed by teenager. Teenage parents often oppose giving rise to conflict between parent and teen. The conflict usually stems from a misunderstanding problem, communication difficulties or differences between adolescent norms with their parent.
3.      Emotions are unstable
Labile emotions that cause adolescents often swayed by the appearance of disappointment and suffering, increasing tensions, contradictions and crises of adjustment, dreams and fantasies, dating and romance, alienation from normal adult life and culture. Frustration occurs because of the emotional maturity that can not manage emotions in him.
4.      The idea are not realistic
Frustation occurs when goals are not achieved the expected teens because the idea that exist in the unrealistic teenager teen tend to identify with something that did not are realistic.
5.      Problem of learning difficulties
Frustation caused by difficulties in learning, including: failure to learn, not grade, is not accepted in schools, not in accordance with the interests and talents, or conflict with the teacher.
6.      Problems of sexuality
Frustation occur related to adolescent sexuality is a curiosity of great sex is not supported by good sex education by parents and school so that children tend to seek out their own because parents tend about sex. The way that teenager tend to be negative is taken for example by reading porn sites or free sex. 

Sunday, January 1, 2012

Adoles Cent Phenomenon Risking do Suicide Action

Phenomenon suicide at child and this adolescent in the last few years progressively mount drasticly. That thing is not merely representing the problem of health of eye, but very complex concerning various life aspect (emotional - social - economic - education - spiritial and prosperity). Many research have hit this phenomenon, goodness concerning epidemiology, etiology, risk factor, and also and therapy of prevensi. But for the Indonesia of this matter still very limited.
To be can conducted by various effort start from intervention and prevention to factors able to modify, need the understanding of about factors having an effect on to suicide at child and is adolescent.
Efficacy of suicide at is adolescent of men 5 bigger times compared to woman, though for the attempt of suicide at is adolescent of woman 3 times more compared to is adolescent of men. Ideas suicide not such a static phenomenon and can change from time to time. Decision for suicide can bob up impulsif without thought of many before hand or decision represent top of endless muzziness or difficulty
Following is result of my seeking regarding adolescent cause of suicide. There is 7 adolescent cause suicide, the most trivial matter. we justly correct reading
  1. Conflict With Family
Like cause suicide most in general, conflict with family become one of the adolescent cause suicide. Especially conflict with old fellow making them, all adolescent feel do not be accepted in its family
  1. Refused In Assocciation
Refused and excommunicated from assocciation and environment can become one of the cause a is adolescent of suicide. Milieu to a adolescent is very important matter. Hence him, when them feel alone its milieu a adolescent like refused by whole world. Whew, serious condition if have like this
  1. Disjointing with one who is loved
Parting with people who loved and also people who love us a heavy blow. For example remained by death by old fellow or girlfriend. This can become factor a adolescent to suicide
  1. Feel to be mortified
Everybody do not can account to feel small. Particularly at adolescent where the condition of bouncing and psychological which still is brittle. Than accounting shame, better terminate altogether with suicide. Solution which exact
  1. Conflict With Girlfriend or Boyfriend
To some of this rank is trivial problem. But do not to some of again. Oppositely;Also there is which is sampe risk suicide broken because with girlfriend or boyfriend, refused, or most often become cause suicide is because failing menikah. At is adolescent of women there is which is suicide because remained its its his, where he or she is its loss have his. In a condition like this which is harmed always party of women.
  1. Avoiding problem
Possible more precisely run from problem. How explaining it a adolescent of owner of his problem of and cannot finish it. Finally chosen to just suicide so that to be its problem finish.
  1. Test National
What its relation of Test National ( UN) adolescently suicide? Have heard a is adolescent of suicide because national pass examination do not or do not go up class? If not have pleased cheque in google with keyword ' adolescent Test National cause of suicide.
Child and adolescent which have suicide risk, generally have marking or profile, among others
  1. Recognized by environment as child “good”
  2. Owning high ability demand
  3. Have high desire and enthusiasm
  4. Owning perfectionist character or always have to perfect
  5. Difficulty to be able to accept self insuffiency
  6. Achievement of Akademik start less reach of mean

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites